LINK WITHIN A PAGE

/ Jumat, 11 Desember 2015 /
Linking to anchors is very similar to normal links. Normal links always point to the top of a page. Anchors point to a place within a page.

A # in front of a link location specifies that the link is pointing to an anchor on a page. (Anchor meaning a specific place in the middle of your page). 

To link to an anchor you need to: 
  • Create a link pointing to the anchor


  • Create the anchor itself.

An anchor is created using the <a> tag. 
If you want to create an anchor called chapter4, you simply add this line where you want the anchor to be:

<a name="chapter4"></a> 


After doing this, you can make a link pointing to the anchor using the normal <a href> tag, like this:

Click <a href="#chapter4">here</a> to read chapter 4. 


Note:
When linking to an anchor on a page you need to put a # in front of the anchor.


When you link to an anchor on the same page, simply enter 

<a href="#YourAnchor">blabla</a>



When you link to anchors on external pages use this syntax: 

<a href="http://www.yahoo.com#YahoosAnchor">blabla</a>






Anchors are generally used when you create pages with considerable amounts of text. You would typically make an index at the top of the page linking to the anchors that have been added to key places in the text that follows.

Berkebun di lahan minimalis

/ Selasa, 11 Agustus 2015 /
Minggu belakangan ini, ada hobi baru yang tiba-tiba datang : berkebun!

Yup, halaman belakang sekarang sudah mulai ramai dengan tunas-tunas baru tumbuh. Menyenangkan melihat biji yang kita tanam, bertambah tinggi tiap harinya.

Kebanyakan, tanaman yang ditanam adalah sayur mayur dan buah, sebut saja cabe rawit, cabe merah keriting, caisin, bayam, pok choi, kentang. Termasuk juga bawang, jahe, kentang dan lain-lain.

Media tanamnya cukup simpel, botol minum bekas. Potong, gunting, bentuk, dan isi dengan tanah humus. Semua semudah membaca a-b-c-d.

Mungkin, di tulisan terpisah bisa ada tips and trik bagaimana pengalaman saya berkebun, ditunggu saja.

Mr Abbot: Please Read This!

/ Minggu, 15 Februari 2015 /
Talking about drugs is like listening never ending story. But at the end always close by sad ending which would always continuing like Indonesia serial film (sinetron). Drugs start somewhere inside cities, than smuggling to another part of the cities, and even going outside. And finish in the hand of youngster who cannot find the way express themselves. The youngster face the death, but stories are happening again somewhere else. And go on.

Talking drugs, like Hollywood always says, we could meet mafia with their kingdom, smugglers and dealers who always find a smart way to sell their products, junkie who fight for pleasure booster and don’t forget corrupted law enforcer and politician.

 So in this circumstances, what is exactly happen? Is it because the money inside? It is because need of existentialism? Or is just the part of humanity: being bad?

It could be interesting when Indonesia government decide to apply dead penalty to drug dealers and Australian Prime Minister, Tonny Abbot, irascible. What’s wrong with him? Even he is not one of drug cycle performer (or is he?).

I know what Indonesian Government done to drug dealers is not completely wrong. I believe everyone need rights to life, and take anybody life is much uncivilized. In this point of view I totally agree with Mr. Tony. But, if take anybody life is uncivilized, how about drug dealers who sold the drugs to Indonesia youngster and throw them into the dark hole, even death, is different with Indonesian death penalty?

Some say, it is different because the youngster die for what they choose for their own life. So, why the drug dealers choose to smuggle drug in Indonesia state law which clearly say death penalty for drug smuggling?

Some say is different because drug dealers also human, which can do wrong, so just forgive them and give them second chance. Then, who will give the junkie second live chance? Do “second-chance-follower” have ever visited drug user rehabilitation? And see how big the destruction affected the users?

How could be something destructive like drug dealers cannot rewarded as destructive as death penalty?

As I wish that Mr. Tonny just only carry out his functions and responsibility as an arm of Australian State to protect their citizen. But my suggestion is learn from Indonesia. Our history already note how politician grab attention with something truthful like you do, but in the end is Failed. Because what you stand for is not worth at all.


Keep our head down, lower our voice and ask our hearth: If someday that free “former-drug-dealers” person come to our children and sell an ounce of drugs, do we already prepared to face that?

Keep our head down, lower our voice and ask our hearth: If someday that free “former-drug-dealers” person come to our children and sell an ounce of drugs, do we already prepared to face that?

Dear hujan,

/ Sabtu, 06 Desember 2014 /

Hai hujan! Apa kabarmu? Lama kita tidak bersua. Tentu maksudku bukan saat kau mengetuk jendela kaca kantor kerjaku. Atau saat engkau menggelanyut di sepatu basahku, pulang menuju rumah.

Lama kita tidak berjumpa pada saat ini, saat rintikmu membelai manja atap rumahku, jatuh pada pucuk lavender lalu menganak di sela rumput-rumput hijau. 

Disaat aku terduduk melihat riak tarimu, sambil menyeruput segelas teh hangat
dan singkong rebus. Ah, betapa bahagia momen ini.

Engkau tahu, bau tubuhmu membawa nostalgia sendiri. Membawa pada melodi bertahun-tahun kebelakang. Saat momen yang sama, aku menemanimu lewat pohon mangga? Ingatkah?

Sekarang pun ada mangga disini, namun belum selebat waktu itu. Sambil sembunyi, kupetik sebuah. Lalu kita makan bersama. Asam!

Atau saat bersama si merah, kulaju ia di sela candamu. Bertiga kita hempas tubuh-tubuhmu pada jalan-jalan kasar. Hingga beberapa orang harus berteriak marah. Engkau membuat mereka terhenti, mogok!

Ah, sungguh aku rindu. Berlama-lama lah  disini. Jangan terlalu cepat engkau menyudahi obrolan ini. Karena malam ini, aku sendiri.


Prasasti

/ Minggu, 23 November 2014 /
Merebah asa dalam
Melintang, menyeberang;
Akankah?

Karena esok,

Telah kuucap: Janji

Tan Malaka Dalam Warna

/ Minggu, 15 Juni 2014 /
Tan Malaka dalam warna, neno@ 2014

Sutan Sjahrir Dalam Warna

/ /
Sutan sjahrir dalam warna, neno @ 2014


Pendidikan Indonesia, mau kemana?

/ Minggu, 27 April 2014 /
Pertama kasus kekerasan seksual pada anak, kemudian disusul kematian peserta didik di sekolah tinggi pelayaran. Ada apa dengan institusi pendidikan di Indonesia?

Saya sepakat jika dikatakan bahwa kejadian tersebut tidak bisa dipukul rata untuk mengaktualisasikan secara keseluruhan kondisi pendidikan di indonesia sekarang ini. Tapi saya percaya, oknum-oknum tersebut melakukan kekerasan karena adanya kesempatan dan pembiaran yang dilakukan.

Kekerasan di dunia pendidikan bukan sekali dua terjadi, namun berulang dan dengan pola yang sama. Kekerasan terjadi oleh masyarakat lingkungan pendidikan itu sendiri. Antara pendidik dengan peserta didik. Antara senior dengan junior. Antara komponen pelayan sekolah dengan peserta didik. Dan lain-lain.

Jika ditilik lebih jauh, pendidikan di Indonesia tujuan pendidikan sifatnya untuk membangun karakter anak bangsa, membuka wawasan mereka untuk mengembangkan bangsa dan negara. Namun apa yang terjadi jika, anak indonesia telah dididik untuk lumrah terhadap kekerasan semenjak dini? Anak indonesia sudah dibiarkan mendapatkan perlakukan menyimpang semenjak dini? Anak indonesia dididik dalam situasi yang penuh tekanan?

Apakah dengan kondisi tersebut bangsa ini dapat menjadi bangsa yang besar?

Saya rasa, sudah semestinya pelaku pendidikan yang memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menciptakan situasi pendidikan yang lebih baik, melakukan sesuatu secara nyata. Pemerintah dalam hal ini, tidak bisa hanya saling menyalahkan, tidak bisa hanya berkata “kami telah melakukan sosialisasi”, tidak bisa lagi hanya bersembunyi dibalik aturan-aturan.

Pemerintah harus mengambil keputusan yang dramatis, dan melakukan percepatan pendidikan. Saran saya:

  1. Kementerian pendidikan diubah menjadi kementerian pendidikan dan kebudayaan kembali.
  2. Buat program sesuai visi misi bangsa dan negara, bukan sesuai permintaan.
  3.  No cashbak for DPR RI, dengan rendah hati saya meminta tolong kepada dewan yang terhormat untuk meloloskan anggaran pendidikan dengan uang sogok minimal. Jadi dari 100% anggaran yang disetujui, minimal 99% kembali ke kementerian pendidikan.
  4. Manajemen profesional dari kementerian pendidikan, jadi para penguasa anggaran dan pelaku anggaran, masing-masing harus memperkecil keuntungan kelompok dan pribadi menjadi minimal 10% per tender yang dilakukan. Untung, asal tidak ketahuan KPK boleh saja, cuma ya jangan sampai 35% dong pak.
  5. Tapi dengan keuntungan tender yang minimal, kementerian harus melakukan konsekuensi menaikkan fasilitas staff pns di lingkungan kementerian pendidikan. Fasilitas ya pak, bukan gaji.
    1. Fasilitas yang penting pertama adalah server dan konektivitas intranet di kementerian, termasuk SDM pengelola.
    2. Fasilitas kedua adalah fasilitas studi banding dinaikkan, tapi yang disetujui hanya studi banding ke daerah-daerah, termasuk belajar OSS dari pemkab yang berpengalaman.
    3. Fasilitas ketiga adalah penyediaan nomor induk siswa yang terpusat dan dapat diakses di kota-kabupaten mana saja.
    4. Fasilitas keempat adalah minimal jaringan intranet dari kota-kabupaten ke pusat.
    5. Fasilitas ke lima adalah akses intranet dari sekolah ke kota-kabupaten.
  6. Libatkan tenaga ahli pendidik, komunitas, perusahaan swasta yang fokus pada pendidikan melalui akses terbatas ke sumber intranet. Sehingga bersama-sama ada pengawasan. Jangan berpikir berat untuk pembiayaan, toh pelaku di luar sana seringkali punya dana lebih besar dari kementerian.
  7. Kembalikan perguruan tinggi guru sebagai syarat menjadi guru, fungsinya filter kapasitas dan kualitas guru.
  8. Pensiunkan dini seluruh komponen pendidik yang tidak mampu mengikuti perkembangan pendidikan.
  9. Rubah konsep pendidikan, yang tadinya fokus pada pengembangan kemampuan kognitif menjadi lebih terbuka, bagaimana caranya? Banyak pakar pendidikan yang lebih menguasai, libatkan mereka. 
Merubah konsep pendidikan secara menyeluruh memang terkesan kompleks, tapi dengan fokus dan perhatian penuh. Saya yakin kita bisa. Pak SBY bersama pemerintahannya saja berhasil untuk menjerumuskan bangsa, apalagi pemerintahan presiden berikutnya: “pasti bisa melakukan yang lebih baik”.

Membaca Blog

Kunjungi Sapere Aude™ untuk membaca melalui telepon genggam
(Ketahui lebih lanjut!)

Bacaan bagus

Madilog
The Alchemist
Terbunuhnya Seorang Profesor Posmo
Sophie's World
The Solitaire Mystery
Vita Brevis: A Letter to St Augustine
Maya
Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers


Nenowasian's favorite books »
}

Partisan Blog

Risalah Blog

Pengunjung Blog

 
Hak Guna © 2012 Sapere Aude, Semua Hak Dilindungi Undang-Undang
Desain oleh DZignine. Didukung Oleh Blogger I Masuk